Sejak Juli 2018, Tim Litbang MAFINDO melakukan pemetaan hoaks bulanan berdasarkan hasil klarifikasi hoaks oleh Komite Fact Checking MAFINDO yang diunggah di www.turnbackhoax.id. Tujuan pemetaan adalah membaca tren hoaks yang beredar setiap bulan, berikut tipe misinformasi/disinformasi, saluran penyebaran, dan bentuk hoaks. Jelang Pemilu 2019, pemetaan ini juga merekam hoaks (bertema) politik untuk menunjukkan siapa saja pihak yang menjadi sasaran target hoaks, tema-tema hoaks politik, serta fenomena penting lainnya.

Temuan Hoaks Secara General Terdapat penurunan jumlah hoaks di bulan Februari 2019, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.  Bulan ini, hoaks tangkapan Tim Fact Checking MAFINDO berjumlah 104 item. Ini berarti terjadi penurunan sebesar 4,59% jika dibandingkan dengan temuan hoaks bulan Januari 2019 (109 item).  Sama dengan bulan Januari, hoaks politik tetap mendominasi, malahan jumlahnya melonjak tajam. Jika bulan lalu hoaks politik berjumlah 58 item, Februari ini jumlahnya mencapai 71 item (68,27%).   Lonjakan ini ditengarai karena adanya peristiwaperistiwa politik penting terkait Pilpres yang menjadi sorotan seperti Debat Capres Putaran Kedua. Beberapa hoaks yang terkait debat ini misalnya tentang alat bantu komunikasi canggih yang dipakai kedua Capres (hoaks berjudul “Alat Bantu Pak De Canggih” dan “Prabowo Gunakan Google Glass untuk Contek Jawaban pada Debat Pilpres Kedua” yang diklarifikasi pada tanggal 20 Februari 2019).

Mendekatnya momen Pilpres membuat hoaks tidak hanya diarahkan untuk membangun citra positif atau negatif terhadap peserta Pemilu, tetapi juga untuk mendelegitimasi proses penyelenggaraan pemilu. Contohnya hoaks tentang video petunjuk pencoblosan berbahasa Mandarin yang didebunk pada tanggal 25 Februari 2019. Topik lain yang juga cukup menonjol pada bulan Februari ini adalah hoaks bertopik kesehatan yang berjumlah 8 item (7,70%), kemudian  kriminalitas, lalulintas, dan penipuan, yang masing-masing berjumlah 5 item (4,81%).

Pemetaan tipe disinformasi dan misinformasi yang digunakan oleh Tim Mapping Litbang MAFINDO merujuk pada kategori First Draft yang juga dijadikan acuan oleh Komite Fact Checking MAFINDO. Pada Februari ini, “Konten yang Salah” merupakan tipe yang dominan digunakan untuk menyalahgunakan informasi. Jumlahnya mencapai 42 hoaks (40,39%), disusul tipe “Konten yang menyesatkan” dan “Konten yang Dimanipulasi” masing-masing sebanyak 21 hoaks (20,19%). Bulan Februari ini, hoaks berbentuk kombinasi narasi dan foto adalah yang paling banyak ditemukan. Jumlahnya mencapai 35 buah (33,65%), disusul oleh hoaks berbentuk narasi sebanyak 32 buah (30,77%), dan hoaks berbentuk kombinasi narasi dan video sebanyak 26 buah (25%). Lagi-lagi semakin terlihat tren meningkatnya hoaks yang ‘canggih’. Bulan ini mencatat rekor hoaks berbentuk narasi dan video. Contoh hoaks berbentuk narasi dan video adalah “Polisi mulai intimidasi warga *InfoAkurat”. Saat di-debunk oleh Komite Fact Checking Mafindo, hoaks ini sudah disebarkan lebih dari 1.3k.

Hasil pemetaan saluran distribusi penyebaran disinformasi/misinformasi memperlihatkan bahwa Facebook tetap menjadi saluran penyebaran paling utama dengan 47 hoaks (45,19%),  disusul Whatsapp sebanyak 13 buah (12,50%) dan Twitter sebanyak 12 hoaks (8,65%). Temuan Hoaks Politik Hoaks politik yang ditemukan di Turnbackhoax.id pada bulan Januari 2019 berjumlah 58 hoaks, sementara di bulan Februari meningkat hingga 71 hoaks. Artinya, terjadi lonjakan hoaks politik dari bulan sebelumnya sebesar 13 hoaks atau 22,41%. Target sasaran berita hoaks politik ini cukup bervariasi. Capres 1 dan tokoh lain paling banyak menjadi sasaran hoaks, tetapi jumlah hoaks yang menyasar target lain seperti Pemerintah, Capres 02, dan tokoh partai juga cukup signifikan. Hal ini memperlihatkan bahwa hoaks politik tidak hanya menjadi salah satu ancaman pada proses pemilihan umum, akan tetapi juga dapat mengganggu penyelenggaran kegiatan negara secara menyeluruh.

Hoaks politik bisa mengambil muatan isu apa saja. Tidak hanya isu dinamika politik, terkadang hoaks politik juga memanfaatkan isu agama, industri, infrastruktur bahkan isu kesehatan. Di bulan ini, hoaks politik menggunakan isu dinamika politik lebih banyak ditemukan, yaitu 41. Selanjutnya, ditemukan 7 hoaks politik yang menggunakan isu agama. Isu dinamika politik lebih banyak menimpa Capres 1 (14 item). Disusul oleh hoaks politik dengan tema infrastruktur (4 item), isu agama, industri, kriminalitas, dan lain-lain. Untuk Capres 2, hoaks politik didominasi dengan isu dinamika politik (6 item), kesehatan dan lain-lain masing-masing 1 item.
Hoaks politik bisa bernada positif, atau bernada ( tone ) negatif. Hoaks dengan nada positif isinya mendukung atau bermaksud menguntungkan sasaran hoaks. Sedangkan hoaks dengan nada negatif isinya menyerang sasaran hoaks dengan tujuan menjatuhkan atau reputasi atau mendiskreditkan pihak yang dijadikan objek hoaks di tengah publik. Hoaks positif atau negatif tetap merupakan hoaks. Bukan kebenaran.

Jika pada Januari 2019, Capres 02 mendapatkan hoaks politik sedikit lebih banyak dibandingkan hoaks politik terhadap Capres 01, maka pada bulan Februari 2019  Capres 01 lagi-lagi menjadi sasaran hoaks terbanyak. Dari total 71 hoaks politik, Capres 1 mendapatkan 28 hoaks (39,43%), terdiri dari 24 hoaks dengan tone negatif dan 4 sisanya bernada positif. Hoaks terhadap Capres 2 hanya berjumlah 8 buah, terdiri dari 3 hoaks bernada positif dan 5 hoaks negatif. Hoaks yang menyerang pemerintah sebanyak 13 (18,31%)—semuanya  bernada negatif. Dari ke-13 hoaks yang membidik pemerintah, hanya 1 yang tidak terkait dengan pencapresan. Sementara itu, 20 hoaks membidik significant person (28,17%). 11 tokoh dianggap bagian dari barisan pendukung Capres 01, 9 orang diasosiasikan dengan Capres 02. Hoaks yang menyerang parpol ditemukan sejumlah 2 buah (2,82%). Baik parpol pendukung Capres 1 maupun parpol pendukung Capres 2 sama-sama menjadi sasaran hoaks politik.

Jika hoaks yang menyasar pihak-pihak tersebut dikelompokkan berdasarkan Capres yang dijadikan sasaran hoaks, maka  Capres 1 mendapatkan hoaks sebanyak 52 buah (73,24%) sementara Capres 02 mendapatkan 18 buah hoaks (25,35%). Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa hoaks yang diterima Capres 1 kali ini banyaknya mencapai 3 kali lipat dibandingkan hoaks yang diterima Capres 2.
Contoh hoaks negatif terhadap Capres 1 adalah hasil tangkapan Komite Fact Checking MAFINDO pada tanggal 18 Februari 2019, berjudul “32 rekening milik Presiden Joko Widodo dan Istrinya di 20 bank luar negeri”.

Sementara hoaks negatif terhadap Capres 2, terlihat dari tangkapan pada tanggal 3 Februari 2019 berjudul “Ini buktinya Prabowo bersama cucu PKI”.  Hoaks positif terhadap Capres 1 muncul pada tanggal 2 Februari 2019, dengan judul “BerSatu untuk Nomer Satu”. Sementara hoaks positif terhadap Capres 2 muncul pada tanggal 1 Februari 2019, dengan judul “Salam dari Maher Zein”.

KPU sebagai lembaga pemerintah banyak menjadi sasaran hoaks politik bulan ini. Pada tanggal 8 Februari 2019, muncul hoaks berjudul “Bocoran Informasi Penting Valid Pola Kecurangan Sistem Penghitungan Suara KPU dengan Modus Nomor 01 dan 02”. Beberapa hoaks lain tidak langsung menyasar KPU tetapi berpretensi untuk mendelegitimasi penyelenggaraan Pemilu. Contohnya hoaks yang didebunk pada tanggal 27 Februari 2019 dengan judul “Foto E-KTP milik Warga Cina di Cianjur yang Bernama Guohui Chen yang Disebut Bisa Nyoblos di Pilpres”

juga hoaks berjudul “Polisi mulai intimidasi warga *InfoAkurat” (2 Februari 2019). Meningkatnya jumlah hoaks terhadap lembaga penyelenggara Pemilu diperkirakan semakin meningkat menjelang momen pemungutan suara, sehingga perlu diwaspadai oleh siapa saja karena berpoentsi mendelegitimasih pelaksanaan Pemilu. Demikianlah laporan pemetaan hoaks bulan Februari 2019. hasil tangkapan Komite Fact Checking Mafindo.

Dikeluarkan oleh Tim Mapping Hoaks Komite Litbang Mafindo. Kontak: komitelitbang@gmail.com

 

Related Post

No Comments

Leave a Comment